Majelis Al-Quran Dunia Islam akan memfasilitasi hubungan antar umat Islam

Kepala Organisasi Komunikasi dan Kebudayaan Islam mengatakan, “Pembentukan Majelis Al-Qur'an Dunia Islam dapat memfasilitasi hubungan dan pengalaman kerja sama di antara umat Islam.”
Ketua Organisasi Komunikasi dan Kebudayaan Islam, Hujjatul Islam Mohammad Mehdi Imanipour, Kamis, 6 Maret, pada Konferensi Al-Quran ke-3 di Teheran mengatakan, "Mempromosikan dan menghidupkan diplomasi Al-Quran adalah solusi untuk membentuk umat yang satu (ummat wahidah). Diplomasi ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti menyelenggarakan acara-acara Al-Quran seperti pameran, MTQ, dan konferensi ilmiah, yang efektif dalam mempromosikan ilmu-ilmu Al-Quran dan mengarah pada interaksi dan sinergi antara lembaga-lembaga ilmiah dan penelitian serta mengambil langkah-langkah praktis di bidang ini."
Ia menambahkan, "Berdasarkan hal ini, penunjukan duta-duta Al-Qur'an dan pembentukan jaringan untuk memperkuat diplomasi keagamaan umat Islam pada tingkat yang efektif harus diperhatikan."
Imanipour menyinggung solusi Al-Quran untuk mewujudkan umat Islam yang satu dan berkata, "Dalam Al-Quran, kata 'ummah' digunakan untuk arti keseragaman dalam agama, ritual, perilaku, waktu, dan tempat. Kata ini disebutkan 65 kali dalam Al-Quran, 52 kali dalam bentuk tunggal dan 13 kali dalam bentuk jamak. Namun dalam beberapa ayat, kata ‘ummah’ merujuk pada agama tertentu.
Sambil menekankan bahwa umat Islam bersandar kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam keyakinan dan tindakannya, ia menambahkan, "Dari sudut pandang Al-Qur'an, ummat wahidah merupakan tujuan Ilahi yang harus diwujudkan dan umat Islam harus bergerak ke arah itu. Umat ini mempunyai ciri-ciri dan prinsip khusus, yang jika dianut umat Islam, akan tercapai persatuan.
Imanipour melanjutkan, "Ciri pertama adalah monoteisme. Ciri pertama umat Qurani adalah keimanan kepada Allah Swt. Prinsip penting ini harus diperhatikan dalam semua bidang sosial. Mengikuti dan meneladani Nabi saw. adalah ciri yang kedua. Ummat wahidah selalu mengikuti dan meneladani Nabi Islam. Mengikuti teladannya menjamin persatuan dan kohesi umat Islam. Ciri ketiga adalah menjadikan Al-Quran sebagai sentral (sentralitas Al-Quran). Al-Quran hendaknya dijadikan dasar dan sentralitas dalam segala aspek kehidupan.
Ketua Lembaga Komunikasi dan Kebudayaan Islam atau dikenal dengan ICRO (Islamic Culture & Relation Organization) juga menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah dalam membangun ummat wahidah, dengan mengatakan, "Ummat wahidah harus memperkuat jiwa ukhuwah. Ukhuwah Islamiyah ini harus muncul dalam seluruh dimensi individual dan sosial umat Islam.
Ia melanjutkan pembahasannya tentang pentingnya kerja sama Islam dan menyatakan, "Ummat wahidah harus bekerja sama dan berinteraksi dalam segala hal. Kerjasama ini hendaknya dalam rangka kebaikan dan membawa kemajuan serta kebanggaan atau kehormatan bagi umat Islam. Untuk mewujudkan ummat wahidah, diperlukan kegiatan-kegiatan praktis, baik pada tingkat individu, nasional, regional, maupun global.
Mengenai solusi yang efektif untuk membentuk ummat Islam wahidah, Imanipour menyatakan, “Jihad tabyin (penjelasan) adalah solusi pertama. Hal ini memainkan peran kunci dalam membangun wacana pada ummat wahidah. Jihad tabyin harus dilakukan pada dua tingkat yang komprehensif untuk menciptakan kondisi bagi persatuan Islam di tingkat publik dan untuk menyebarkan serta mempromosikannya.”
Sambil menegaskan bahwa prasyarat terciptanya ummat wahidah adalah umat Islam harus menghindari perselisihan, ia menambahkan, "Masalah tabyin merupakan urusan ilmiah dan elitis. Wacana baru harus dibentuk berdasarkan tuntutan dunia, dan tafsir Tasnim, yang diterbitkan dalam 80 jilid oleh Ayatullah Jawadi Amuli, adalah contoh nyata dari wacana ini.
Ketua ICRO, seraya menegaskan bahwa terwujudnya ummat wahidah di dunia saat ini membutuhkan produksi karya sastra dan literasi, dan pengulangannya akan melahirkan wacana ummat wahidah, mengatakan, "Hal ini dapat dilakukan dengan kembali kepada Al-Qur'an dan menghindari untuk mengabaikan atau meninggalkan Al-Quran. Interaksi dan kerjasama harus dibentuk di antara umat Islam di semua bidang yang memungkinkan. Oleh karena itu, nilai-nilai Al-Quran perlu diperhatikan dalam seluruh aspek kehidupan individu dan masyarakat serta dimanfaatkan menuju persatuan.
Konferensi Al-Qur'an Teheran ke-3 diadakan di Teheran dengan tujuan membentuk Majelis Al-Qur'an Dunia Islam sebagai strategi efektif untuk mencapai ummat wahidah, dengan partisipasi lebih dari 50 aktivis Al-Qur'an dari 24 negara di seluruh dunia, dengan inisiasi ICRO.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para elit Al-Qur'an dari Iran, Afghanistan, Aljazair, Uni Emirat Arab, Indonesia, Uganda, Italia, Iran, Bosnia dan Herzegovina, Pakistan, Tajikistan, Thailand, Turki, Chad, Cina, Rusia, Pantai Gading, Irak, Qatar, Kamboja, Guinea, Lebanon, Nigeria, dan India.
.